Kontribusi Petani dan Sarjana Pertanian Muslim

Posted On Mei 31, 2009

Disimpan dalam Uncategorized

Comments Dropped tinggalkan tanggapan

”Dengan penuh kecintaan terhadap alam dan kehidupan, masyarakat Islam klasik telah mencapai keseimbangan ekologi,” papar Lucie Bolens, ilmuwan yang intens mempelajari sejarah pertanian Muslim. Sayangnya, keseimbangan ekologi yang diciptakan umat Islam melalui Revolusi Hijau-nya dihancurkan pasukan Mongol hingga tentara Perang Salib (Crusaders).

Invasi yang dilakukan Mongol hingga tentara Perang Salib telah menghancurkan jaringan irigasi, memusnahkan tumbuh-tumbuhan serta tanaman serta menutup rute perdagangan. Keseimbangan ekologi terus tergerus ketika era kolonialisme melanda dunia. Ekologi pun semakin hilang keseimbangan, terutama di era industri saat ini.

Sarjana pertanian dan petani Muslim di abad pertengahan tak hanya mengajarkan bagaimana keseimbangan ekologi dibangun, namun juga banyak memperkenalkan beragam inovasi di bidang pertanian. Mereka memperkenalkan bentuk-bentuk baru kedudukan lahan, memperbaiki irigasi dengan beragam metode irigasi yang mutakhir. Petani Muslim juga memperkenalkan pupuk serta sistem irigasi buatan.

Para petani dan sarjana pertanian Muslim juga mengembangkan sistem irigasi gravity-flow dari sungai dan mata air. Umat Islam pula yang pertama menggunakan noria dan rantai pompa untuk irigasi. Industri gula tebu dan perkebunan tebu juga merupakan rintisan petani dan sarjana pertanian Muslim.

Era kejayaan pertanian Islam juga telah melahirkan ilmuwan Muslim yang meletakan fondasi ilmu pertanian, seperti agronomi, botani, serta ilmu lingkungan. Salah satu ilmuwan pertanian Islam yang terkemuka adalah Abu al-Abbas al-Nabati – gurunya Ibnu Al-Baitar.

Ahli sejarah George Sarton mengungkapkan, ”Catatan-catatan Al-Baitar adalah karya terpenting dalam dunia tumbuhan dari seluruh periode kejayaan ahli botani, mulai dari masa Dioscorides sampai abad ke-16.” Catatan Al-Baitar menyerupai kamus atau ensiklopedia lengkap tentang tumbuh-tumbuhan.

Dalam Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada, Al-Baitar menuliskan 1.400 macam tanaman, makanan dan obat-obatan. Sebanyak 300 di antaranya ditemukan sendiri. Kitab itu begitu berpengaruh di Eropa setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin serta masih digunakan hingga abal abad ke-19. Salah satu tokoh lainnya adalah Al-Dinawari, ahli botani di abad ke-9 merupakan pendiri botani Arab. Dia menulis sebuah ensiklopedia berjudul Kitab al-Nabat atau Book of Plants, yang terdiri dari enam volume. Itulah sebagain kontribusi Islam dalam bidang pertanian.

Jadilah Muslim Intelektual, bukan Intelektual Muslim

Posted On Desember 11, 2008

Disimpan dalam Uncategorized

Comments Dropped tinggalkan tanggapan

“Jadilah Muslim Intelektual”, sebuah nasehat terakhir dari Ayah tercinta yang menjadi perenungan setiap hari bagi penulis. Nasehat yang terlontar sebelum kepergian ke Malang ini benar-benar membuat tak ingin segera pergi jauh dari beliau agar bisa selalu mendengarkan dan menerima nasehat-nasehat berikutnya. Tapi, tugas menuntut untuk sebaliknya.

Apa maksud dari Intelektual Muslim? Bukan hal aneh bahwa di Indonesia akhir-akhir ini banyak sekali Intelektual Muslim atau yang mengaku demikian, yaitu mereka yang [maaf] hanya mengerti sedikit tentang Islam tetapi mereka bicara tentang Islam yang karena kedangkalannya tentang Islam, kadang pemahamannya jauh dari esensinya atau paling tidak melenceng. Mereka seorang Ilmuan sehingga kadangkala apa yang diucapkannya mudah diiyakan oleh mereka yang menjadi muridnya atau pengikutnya. Dengan alasan bukti Ilmiah mereka mengobrak-abrik tatanan yang telah dibangun oleh para Ulama terdahulu yang menurut penulis sendiri Intelektual Muslim tersebut masih jauh dalam hal keilmuan dibanding dengan Para Ilmuan Muslim zaman dulu. Sebut saja Imam Al-Ghazali, Al-Farabi, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, dll. Sedang kita tahu bahwa para Ilmuan terdahulu melakukan risetnya berlandaskan keikhlasan, dan insya Allah tanpa tendensi dan bukan pula mencari sensasi.

Sedang Muslim Intelektual menurut beliau adalah mereka yang paham (bukan tahu) tentang Islam dan sumber ajarannya (Al-Qur’an dan Sunnah/Hadist). Selanjutnya mereka menda’wahkannya sesuai dengan perintah Rasul. Mereka seorang Muslim dengan pengetahuan yang luas bukan hanya dalam bidang keIslaman tapi juga bidang Ilmu lain seperti kedokteran, Fisika, Antropologi, sejarah, dll. Mereka inilah penerus generasi Ulama semacam Ibnu Rusyd, Al-Kindi, Al-Farabi,dll. Hingga semua penelitiannya dilandaskan pada keyakinan (Islam) dan Fitrah Manusia. Karena Islam bukan sebagai jalan menggapai akhirat semata, tetapi dunia dan akhirat.

Okelah, kita harus kritis dalam menerima pemikiran para Pemikir terdahulu. Tapi, apakah dengan Ilmu yang masih “cetek” kemudian kita atau sebagian para Intelektual menasikhkan pemikiran Ulama besar terdahulu dengan congkaknya, seolah gagasan mereka adalah hal yang sesuai.

Ijtihad dalam Agama memang dibolehkan, tetapi bukan ijtihad yang serabutan. Ijtihad yang hanya dengan mengandalkan Ilmu dari buku-buku terjemahan, serta Ilmu dan Basic yang lemah tentang Keislamaan jelas tidak dibolehkan dalam Islam. Sebab, alih-alih mengeluarkan hokum dan pemikiran yang bersih, malah sesat dan menyesatkan.

Apa bedanya dengan Muslim Intelektual? Mereka adalah yang menguasai Ilmu-Ilmu keislaman dari yang basic hingga yang rumit (Tauhid, Tafsir dan Ulumnya, Hadist dan Ulumnya, bahkan Hafal atau minimal paham Al-Qur’an, Fikh dan Ushulnya, serta Ilmu keIslaman yang lain) dengan penguasaan yang tidak setengah-setengah. Hingga apa yang menjadi gagasan mereka bukan pemikiran dari Ijtihad serabutan, tetapi bisa dijadikan pijakan dan pencerahan bagi Umat.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa dijadikan cermin bagi kita semua.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.